You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Saham robotika China 'Unitree' melesat saat debut di pasar bursa – Mengapa robotika AS disebut kehilangan pamor?
- Penulis, Osmond Chia
- Peranan, Business reporter
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Raksasa robot humanoid terbesar di dunia, Unitree Robotics, melantai di bursa saham Shanghai pada Rabu (19/08), dengan harga sahamnya melesat lebih dari 600% pada awal perdagangan.
Dalam penawaran umum perdana saham (IPO) yang sangat dinantikan tersebut, saham perusahaan asal China itu dibuka pada harga 1.100 yuan (sekitar Rp2.900.000), sebelum memangkas sebagian kenaikannya dan diperdagangkan di kisaran 900 yuan.
Pencatatan saham Unitree di Star Market, bursa yang berfokus pada perusahaan teknologi dan kerap dijuluki sebagai "Nasdaq-nya China", menjadi tonggak penting bagi ambisi Beijing untuk mengembangkan industri robotika nasional.
Langkah ini terjadi ketika Amerika Serikat (AS) dan China bersaing ketat untuk mendominasi pasar global robot serta model kecerdasan buatan (AI) yang menjadi otak pengoperasian mesin-mesin tersebut.
Walaupun Unitree bukan produsen robot humanoid pertama dari China yang mencatatkan saham di pasar modal, debut ini menjadi yang pertama dilakukan di China daratan.
Robot, mulai dari peralatan industri otomatis hingga penyedot debu pintar, telah lama digunakan secara luas di pabrik, gudang, dan rumah tangga.
Kini, industri robot humanoid menarik investasi dalam jumlah besar seiring perusahaan-perusahaan raksasa, termasuk Tesla, BYD, dan Amazon, mengembangkan robot berkaki dua yang mampu melakukan berbagai pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia.
Apa itu Unitree?
Unitree, yang secara resmi bernama Yushu Technology Co Ltd, didirikan pada 2016 dan kini memainkan peran penting dalam ambisi Beijing untuk mengembangkan teknologi maju.
Unitree telah menjelma menjadi salah satu pemimpin industri robotika, dengan menjual berbagai produk mulai dari sensor, lengan robot otomatis, hingga robot berkaki empat dan robot humanoid.
Perusahaan tersebut mengirimkan lebih dari 5.500 robot humanoid sepanjang tahun lalu, seiring meningkatnya permintaan terhadap teknologi tersebut.
Unitree juga menjadi salah satu dari sedikit perusahaan di sektor ini yang telah membukukan keuntungan, dengan mencatat laba bersih sebesar 278 juta yuan pada 2025.
Perusahaan itu menjadi pesaing kuat bagi pengembang robot di AS karena mampu memproduksi robot dengan kemampuan serupa, tetapi dengan harga yang lebih rendah.
Unitree berkantor pusat di Hangzhou, China timur. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat utama industri robotika, yang berkembang berkat investasi pemerintah dalam jumlah besar.
Menurut harian milik pemerintah, China Daily, dukungan tersebut turut mendorong jumlah perusahaan robotika di China meningkat lebih dari tiga kali lipat antara 2020 hingga 2024.
Robot juga dipandang sebagai salah satu solusi potensial untuk mengatasi tantangan yang muncul akibat penuaan populasi di China.
Kondisi itu diperkirakan akan menyebabkan kekurangan tenaga kerja di negara tersebut, kata Fei Qin, profesor madya di University of Bath.
Menurut Qin, Beijing memandang sektor robotika sebagai "prioritas strategis" dalam upayanya menjadi pemimpin global di bidang teknologi maju.
"Robot adalah titik ketika kecerdasan buatan (AI) keluar dari layar dan masuk ke dalam perekonomian," tambah Qin, seraya menyebut kehadirannya kini semakin nyata di pabrik, rumah sakit, dan berpotensi juga di rumah-rumah.
Robot buatan AS umumnya menawarkan perangkat lunak yang lebih ramah pengguna.
Namun, sulit mengabaikan harga yang jauh lebih murah yang ditawarkan produsen China, kata Harold Soh, peneliti dari National University of Singapore.
Robot anjing buatan Unitree dijual mulai dari US$2.700 (sekitar Rp48.143.700), hanya sebagian kecil dari harga Spot, robot berkaki empat produksi Boston Dynamics, yang dibanderol sekitar US$70.000.
"Produk-produk itu tidak sepenuhnya bisa dibandingkan karena beberapa robot anjing Unitree berukuran jauh lebih kecil," kata Soh. "Namun, perbedaan harganya memang sangat besar."
Unitree mulai menjual robot humanoid pada 2023. Setahun kemudian, perusahaan itu meluncurkan model G1, robot seukuran anak-anak yang dipasarkan dengan harga US$13.500 (sekitar Rp240.646.950).
Sementara itu, sejumlah pesaing utama di Amerika Serikat, termasuk Tesla milik Elon Musk, hingga kini belum mulai mengirimkan produk humanoid pesaing mereka ke pasar.
Robot-robot Unitree menjadi pusat perhatian dalam kampanye promosi besar-besaran menjelang penawaran umum perdana saham (IPO) perusahaan tersebut.
Pekan ini, mesin-mesin buatan Unitree turut berlaga dalam World Humanoid Robot Games 2026 di Beijing.
Ajang itu diikuti ratusan tim yang berkompetisi dalam berbagai cabang, mulai dari lari dan sepak bola hingga tantangan yang lebih sederhana seperti membuka kotak dan menyortir buku perpustakaan.
Pada Februari lalu, robot Unitree menarik perhatian publik dan kalangan peneliti ketika robot G1 mereka menampilkan rangkaian gerakan seni bela diri dalam Gala Festival Musim Semi China.
Siaran langsung acara itu memperlihatkan robot-robot tersebut melakukan berbagai gerakan "dengan cara yang belum pernah kami lihat sebelumnya", kata peneliti robotika David Hsu.
"Itu merupakan indikasi bangkitnya sebuah industri," tambah Hsu.
Barometer bagi perusahaan robotika?
Sejumlah pakar menilai debut Unitree di pasar saham dapat menjadi tolok ukur minat investor terhadap industri robot humanoid yang berkembang pesat.
Menurut Jack Pearson dari perusahaan investasi RoboStrategy, pencatatan saham tersebut memberikan kesempatan yang relatif langka bagi publik untuk berinvestasi di perusahaan robot humanoid dan berpotensi menjadi acuan bagi produsen lain di sektor yang sama.
Pencatatan saham ini juga menandai sebuah "titik balik" bagi industri robotika China, kata Pearson. Menurutnya, keberhasilan Unitree terjadi di tengah upaya Amerika Serikat membatasi impor robot buatan luar negeri.
IPO Unitree berlangsung hampir tiga tahun setelah pesaingnya yang lebih kecil, UBTech Robotics, melantai di Bursa Saham Hong Kong.
Pada Juli tahun ini, UBTech menarik perhatian dunia ketika memperkenalkan robot yang oleh media pemerintah China digambarkan sebagai "sangat menyerupai manusia", dirancang untuk memberikan dukungan emosional dan interaksi sehari-hari.
Sejumlah produsen robot lainnya, termasuk Leju Robotics dan AgiBot, diperkirakan akan mengikuti jejak UBTech dan Unitree dengan mencatatkan saham mereka di pasar modal dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, optimisme yang mengelilingi industri ini muncul di tengah keraguan sejumlah pakar mengenai besarnya permintaan robot untuk penggunaan di luar lingkungan industri dan komersial.
Menurut Harold Soh, robot masih memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum dapat bekerja secara efektif di lingkungan rumah tangga.
Ia mengatakan para pengembang masih harus mengatasi sejumlah tantangan, seperti memperpanjang daya tahan baterai, memastikan perlindungan privasi pengguna, serta meningkatkan keandalan sistem.
"Masih ada berbagai persoalan teknis yang perlu diselesaikan sebelum robot dapat digunakan secara luas di rumah-rumah," kata Soh.
Pada tahap awal, pasar utama robot humanoid kemungkinan akan berada di sektor-sektor seperti pabrik dan rumah sakit, tambah Soh.
Persaingan teknologi China-AS
Robot dan kecerdasan buatan (AI) telah menjadi titik panas terbaru dalam persaingan antara AS dan China, yang sama-sama memandang kedua sektor tersebut sebagai industri strategis.
Pada Juli lalu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengumumkan larangan terhadap robot humanoid dan robot berkaki empat buatan China yang baru masuk ke pasar AS. Langkah itu disebut bertujuan melindungi keamanan nasional serta industri manufaktur dalam negeri.
Beijing menolak tuduhan tersebut dan menuding Washington telah "mempolitisasi" isu perdagangan.
AS juga memberlakukan berbagai pembatasan ketat terhadap teknologi China lainnya, termasuk model kecerdasan buatan dan kendaraan listrik.
Dominasi China dalam industri robotika dinilai mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi Washington, seiring perusahaan-perusahaan China semakin mengakar dalam rantai manufaktur global, kata Christine Wan dari Peterson Institute for International Economics.
Menurut Wan, banyak negara mungkin enggan mengurangi ketergantungan mereka pada pemasok asal China karena langkah tersebut berisiko mengganggu kegiatan manufaktur di dalam negeri.
Meski demikian, dinamika ini menunjukkan bahwa persaingan antara AS dan China tidak lagi terbatas pada perdagangan atau semikonduktor, melainkan juga mencakup teknologi robotika yang dipandang akan memainkan peran penting dalam ekonomi masa depan.
Sejauh ini, robot buatan Barat belum memberikan dampak yang sama besar di lantai pabrik maupun pasar konsumen.
Boston Dynamics, salah satu pengembang robot terkemuka di AS, mengatakan akan mulai menerapkan robot humanoid di pabrik-pabrik mobil milik Hyundai dalam waktu dua tahun ke depan.
Perusahaan otomotif asal Korea Selatan itu merupakan pemegang saham mayoritas Boston Dynamics.
Perusahaan-perusahaan AS lainnya, seperti Amazon dan Tesla, juga telah mengumumkan rencana untuk memanfaatkan robot humanoid dalam kegiatan operasional mereka.
Awal tahun ini, perusahaan milik Elon Musk mengumumkan bahwa pabriknya di California, yang selama ini memproduksi mobil Model S dan Model X, akan digunakan untuk memproduksi lini robot humanoid Optimus.
Sementara itu, Amazon, yang mulai menguji penggunaan robot humanoid di gudang-gudangnya pada 2023, mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan masih melanjutkan penelitian untuk mengembangkan generasi robot berikutnya.
BBC juga telah menghubungi Tesla dan Boston Dynamics untuk meminta komentar terkait rencana pengembangan robot humanoid mereka.
Namun, menurut David Hsu, satu hal yang kini semakin jelas adalah bahwa AS telah kehilangan posisinya sebagai pemimpin di bidang robotika.
"Kita tidak lagi sering mendengar perusahaan robotika AS menjadi sorotan berita. Saat ini, perusahaan-perusahaan robotika China yang mendominasi pemberitaan," tambah Hsu.
"Merekalah yang kini menjadi pemain paling menarik dan paling banyak menyita perhatian di industri ini."