Sejumlah keluarga di Gaza terus mencari jawaban atas ribuan orang yang dinyatakan hilang – 'Saya bisa tenang, kalau anak kami ditemukan hidup atau mati'

    • Penulis, Jon Donnison
    • Melaporkan dari, Jerusalem
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Sepuluh bulan setelah gencatan senjata diumumkan, ribuan warga Palestina di Gaza masih dilaporkan hilang.

Ahmed al Madhoun tampak seperti sosok yang, di tengah segala kesulitan, tetap mencintai kehidupan.

Pria muda bertubuh gempal dengan senyum ceria dan tingkah yang kerap mengundang tawa.

Dari rumahnya yang sebagian hancur di Kota Gaza, sang ibu, Majdiya, menunjukkan kepada BBC sejumlah video Ahmed yang tersimpan di telepon genggamnya.

Dalam salah satu video, Ahmed terlihat memeluk seekor anak kucing. Ia menjulurkan lidah dan berseru gembira.

Dalam video lainnya, ia menjatuhkan diri ke kolam renang dengan posisi tengkurap, lalu muncul kembali ke permukaan dengan senyum lebar.

"Semua orang adalah temannya," kata Majdiya kepada BBC. "Dia disayangi ke mana pun dia pergi, dan selalu tersenyum."

Namun kini Ahmed, yang menyandang sindrom Down, tidak diketahui keberadaannya. Pemuda berusia 21 tahun itu hilang sejak Mei 2025 setelah pergi ke sebuah toko di dekat rumahnya.

Saat itu, perang di Gaza antara Hamas dan Israel masih berkecamuk.

Pada hari Ahmed menghilang, serangan Israel terjadi di wilayah tersebut. Majdiya khawatir putranya telah meninggal dunia, tetapi hingga kini ia tidak memiliki kepastian.

"Ya Tuhan, hati saya tidak pernah tenang," ujarnya.

"Saya belum kehilangan harapan. Namun, apakah dia ditemukan dalam keadaan hidup atau meninggal, terkubur di bawah reruntuhan sekalipun, hanya saat itulah saya bisa merasakan ketenangan."

Rasa sakit seperti yang dialami Majdiya dirasakan oleh banyak ibu di seluruh Gaza.

Lebih dari 73.000 orang telah tewas di Gaza sejak Israel melancarkan operasi militernya, termasuk sekitar 1.200 orang yang meninggal setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober tahun lalu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.

Angka-angka tersebut dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Media Israel pada Januari melaporkan bahwa seorang sumber senior keamanan Israel menyatakan militer menerima bahwa angka korban yang dirilis otoritas kesehatan Gaza tersebut akurat.

Namun, jumlah sebenarnya warga Palestina yang tewas kemungkinan jauh lebih tinggi. Data korban yang dikeluarkan kementerian kesehatan tidak mencakup jasad yang masih tertimbun reruntuhan bangunan, sehingga banyak orang yang hilang belum masuk dalam perhitungan.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan telah menerima lebih dari 5.000 permintaan pencarian orang hilang yang kemungkinan masih terkubur di tengah puing-puing kehancuran.

Sementara itu, Badan Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan jumlah orang yang hilang mencapai lebih dari 8.000 orang.

Penemuan jasad masih terjadi hampir setiap hari.

Awal bulan ini, pemakaman massal digelar di Kota Gaza untuk lebih dari seratus orang yang tewas dalam serangan Israel pada 2023.

Jenazah mereka baru-baru ini berhasil ditemukan dan diidentifikasi, sehingga akhirnya dapat dimakamkan secara layak.

Palang Merah menyebut proses evakuasi jenazah sangat sulit dilakukan mengingat luasnya kerusakan serta minimnya alat berat seperti buldoser.

Dalam banyak kasus, identifikasi jenazah juga menjadi tantangan karena korban telah meninggal dalam waktu lama.

Keterbatasan fasilitas uji DNA, yang antara lain dipengaruhi pembatasan Israel terhadap barang-barang yang dapat masuk ke Gaza, semakin mempersulit proses tersebut.

Keluarga Ahmed al Madhoun menyadari bahwa ia kemungkinan telah tewas. Namun, mereka juga dihantui kemungkinan lain: bahwa Ahmed ditahan oleh aparat keamanan Israel.

Selama hampir tiga tahun perang berlangsung, pasukan Israel telah menahan sekitar 7.000 warga Palestina dari Gaza.

Dari jumlah itu, lebih dari 5.000 orang kemudian dibebaskan tanpa pernah didakwa, menurut Public Committee Against Torture, organisasi yang berbasis di Israel.

Menurut kelompok hak asasi manusia Israel, HaMoked, hingga bulan ini sekitar 1.300 warga Gaza masih ditahan di penjara Israel tanpa dakwaan maupun persidangan.

Organisasi tersebut menambahkan bahwa angka itu tidak mencakup tahanan asal Gaza yang ditahan langsung oleh militer Israel.

Menurut HaMoked dan sejumlah organisasi hak asasi lainnya, keluarga Palestina kerap tidak menerima pemberitahuan dari pihak Israel mengenai penangkapan ataupun keberadaan kerabat mereka.

Akibatnya, banyak keluarga harus bergantung pada organisasi nonpemerintah dan pengacara untuk menelusuri keberadaan anggota keluarga yang hilang.

BBC telah meminta tanggapan kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Dinas Penjara Israel (IPS) terkait laporan mengenai kegagalan mereka memberi informasi kepada keluarga para tahanan.

Pihak berwenang Israel sebelumnya menyatakan bahwa penahanan dalam jangka waktu lama dilakukan atas dasar pertimbangan keamanan selama masa perang. Mereka juga membantah tuduhan bahwa penahanan dilakukan secara sewenang-wenang.

Di kawasan Sabra, Kota Gaza, Aida al Drimli menunjukkan kepada kami foto putranya, Mahmoud. Dalam foto itu, pemuda berwajah segar tersebut terlihat mengenakan syal Palestina yang melingkari bahunya.

"Dia anak muda yang tenang dan sopan," kata Aida. "Dia menyayangi semua orang, dan semua orang juga menyayanginya."

Mahmoud menghilang pada 2024. Keluarganya semula khawatir ia tewas dalam serangan Israel.

"Ayahnya pergi ke rumah sakit dan memeriksa jenazah-jenazah yang ada di sana," tutur Aida kepada kami. "Namun saya tidak sanggup melakukannya. Saya benar-benar hancur."

Namun pada musim panas tahun ini, sebuah foto muncul di media sosial yang memperlihatkan dua tentara Israel berpose di samping seorang warga Palestina yang ditahan. Dalam foto tersebut, tahanan itu tampak ditutup matanya dan diikat.

Aida yakin orang dalam foto itu adalah Mahmoud.

"Dari raut wajahnya, dahinya, mulutnya, hidungnya, cara dia duduk, cara dia mengatupkan mulut, tangannya, bahkan bentuk kakinya. Ciri-ciri itu persis sama dengan anak saya," ujarnya.

Namun, hanya bermodal satu foto, Aida menyadari bahwa ia tidak bisa benar-benar yakin.

"Ketika suami saya duduk dan menunjukkan foto itu kepada saya, saya merasa lega," katanya.

"Namun pada saat yang sama, saya sangat sedih dan hati saya hancur melihat anak saya dalam kondisi seperti itu. Itu sangat merendahkan martabatnya."

Baik keluarga al Drimli maupun keluarga al Madhoun menyatakan bahwa mereka dan putra-putra mereka tidak memiliki hubungan dengan Hamas maupun kelompok bersenjata lainnya di Gaza.

BBC telah meminta keterangan kepada Dinas Penjara Israel (IPS) mengenai kedua pria tersebut. Pihak IPS menyatakan tidak memiliki catatan bahwa mereka pernah ditahan di fasilitas yang dikelolanya.

Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada militer Israel, yang turut mengelola pusat-pusat penahanan dan penjara. Namun, hingga saat ini tidak ada tanggapan yang diberikan.

Israel tidak mengizinkan jurnalis internasional, termasuk BBC, untuk mengakses Gaza secara independen.

Keluarga al Drimli telah meminta Palang Merah untuk membantu memastikan apakah Mahmoud ditahan. Namun, Israel tidak memberikan akses kepada Palang Merah terhadap catatan para tahanan di penjaranya.

Tal Steiner, pengacara asal Israel yang membantu melacak keberadaan warga Palestina yang kemungkinan ditahan oleh Israel, mengatakan kepada BBC bahwa "7 Oktober mengubah segalanya", merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 dan perang yang menyusul setelahnya.

"Larangan terhadap Komite Internasional Palang Merah untuk mengunjungi penjara, serta fakta bahwa ICRC sendiri tidak memiliki daftar orang-orang yang ditahan Israel, membuat kami harus menelusuri mereka satu per satu berdasarkan permintaan keluarga," katanya. "Hal itu sangat membebani upaya pencarian mereka saat ini."

Steiner mengatakan bahwa bagi banyak keluarga, ketidakpastian merupakan beban yang paling berat.

"Ini seperti luka terbuka. Lukanya tidak pernah sembuh. Mereka tidak pernah bisa tenang karena bahkan tidak mengetahui apakah anggota keluarga mereka masih hidup atau sudah meninggal," ujarnya.

Menurut Steiner, selama tiga tahun terakhir Israel juga membuat proses pelacakan terhadap warga Palestina yang kemungkinan ditahan menjadi jauh lebih sulit.

"Bagi mereka yang tidak mengetahui keberadaan anggota keluarganya, kondisi itu benar-benar memperparah penderitaan yang sudah ada. Ini adalah tekanan mental yang sangat berat dan bisa berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun."