Gempa NTT hancurkan fasilitas kesehatan, petugas medis berkejaran waktu untuk selamatkan pasien - 'Situasinya sangat susah'

    • Penulis, Faisal Irfani
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 3 menit

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang melanda kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) turut menyebabkan layanan kesehatan publik terhambat. Sejumlah fasilitas kesehatan rusak parah dan pasien terpaksa dirawat di tenda darurat.

Pegawai kehumasan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai, Rista Mari, mengatakan bahwa kondisi rumah sakit terdampak hebat akibat gempa.

Atap serta tembok bangunan roboh sehingga banyak ruangan kehilangan fungsinya, seperti ruang operasi, persalinan, farmasi, sampai laboratorium.

Untuk menanggulangi situasi tersebut, pihak rumah sakit mendirikan tenda darurat bagi para pasien, seraya mempersiapkan ruang medis pengganti sebagai jalan pintas sementara.

Per Minggu (16/08) siang, masih ada 32 pasien yang dirawat di tenda darurat, termasuk korban gempa yang berjumlah 4 orang.

Semua pasien dari klaster korban gempa memerlukan tindakan medis sesegera mungkin. Satu pasien, contohnya, mengalami patah tulang.

"Di luar itu, beberapa pasien juga sudah tidak nyaman dan minta untuk pulang," ujar Rista kepada BBC News Indonesia.

"Situasinya sekarang sangat susah."

Rita menambahkan RSUD Ruteng tengah berkejaran dengan waktu.

Sejauh ini, selain membangun ruang darurat agar pasien yang butuh penanganan cepat dapat diatasi, mereka berupaya keras mengumpulkan sisa-sisa alat medis yang sekiranya masih dapat difungsikan.

"Kami dengar kabar akan ada bantuan tim medis, tapi belum ada sampai sekarang. Kami berharap bantuan itu segera tiba," pungkasnya.

Pemandangan tak jauh berbeda ditemukan di Kabupaten Ngada.

Merujuk keterangan salah seorang warga bernama Charles Abar, layanan kesehatan yang disediakan puskemas tidak bisa bergulir ideal.

Di Puskesmas Ladja, Golewa Selatan, misalnya, penanganan kesehatan yang normalnya dilakukan di dalam ruangan puskesmas, sekarang terpaksa dipindah ke halaman luar. Penyebabnya: kerusakan bangunan.

Di sana, pengelola puskesmas mendirikan tenda darurat.

Pemandangan serupa dijumpai di Puskesmas Maronggela, Riung Barat, yang "hampir rusak di setiap sisi," terang Charles kala dihubungi BBC News Indonesia, Minggu (16/08).

Masalah lain yang mengikuti ialah mayoritas peralatan tidak mampu berfungsi secara baik karena terkena reruntuhan bangunan.

Alhasil, puskesmas-puskesmas di Kabupaten Ngada cuma mengandalkan perkakas seadanya guna mengobati pasien.

Bantuan medis, menurut Charles, satu pun belum tiba.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Kementerian Kesehatan pada Sabtu (15/08), tercatat 21 rumah sakit terkena imbas gempa bumi. Enam di antaranya rusak ringan, sementara tiga lainnya berstatus parah.

Persebaran rumah sakit yang rusak berat mencakup Kabupaten Manggarai (RSUD Ruteng) serta Kabupaten Nagekeo (RS Pratama Raja dan RS Aeramo).

Sementara dari 190 puskesmas yang terdaftar, sekitar 57 ditetapkan rusak—berat serta ringan. Puluhan puskesmas ini terletak di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada.