Menentang pemerintah Iran melalui alunan rap yang marah

Sumber gambar, Hichkas/YouTube
- Penulis, Arian Khameneh
- Peranan, BBC Culture
- Telah diterbitkan
Saat rapper Iran seperti Hichkas dipaksa ke pengasingan, dan penyanyi rap Iran lainnya seperti Toomaj Salehi dan Saman Yasin dipenjara, Arian Khameneh melihat bagaimana genre musik ini telah menjadi soundtrack untuk era protes di negara tersebut.
Pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an, Soroush Lashkari, lebih dikenal sebagai Hichkas (kata Persia yang berarti “bukan siapa-siapa”) sedang merekam video rap kasar di jalan-jalan Teheran.
Dia tidak memiliki penerangan di malam hari, maka dia dan teman-temannya merekam video dengan berjalan di depan lampu belakang mobil yang sedang mundur.
Karena hip-hop adalah genre musik yang sebagian besar ilegal di Iran, Hichkas harus menjual karyanya secara diam-diam, melalui email pribadi, mencoba menyaring agen pemerintah yang menyamar dengan menelepon pembeli terlebih dahulu dan mengantarkan CD ke pintu mereka.
Meskipun pemerintah telah mencap hip-hop sebagai "Setanisme", rap Iran menyebar melalui internet dan tumbuh selama satu dekade berikutnya menjadi salah satu genre musik paling populer di kalangan pemuda negara itu.
Dalam bukunya Soundtrack of the Revolution, yang meneliti bagaimana musik dan politik saling terkait di Iran, Nahid Siamdoust berpendapat bahwa popularitas hip-hop di Iran dapat dikaitkan dengan hubungannya dengan tradisi puisi Iran yang telah berusia berabad-abad, dan kekuatan rap untuk meluapkan ekspresi sehingga cocok untuk kritik dan protes.
Tidak semua rap Iran memiliki tema langsung dengan perlawanan dan politik: ada subkategori bertema ringan yang berfokus pada masalah sosial, bukan kritik politik langsung.

Sumber gambar, Getty Images
Namun hari-hari ini, saat gerakan Perempuan, Kehidupan, dan Kebebasan yang sedang berlangsung di Iran telah meningkatkan ketegangan politik ke tingkat yang tidak pernah terlihat dalam beberapa dekade, pesan dalam hip-hop Iran telah menjadi semakin radikal.
Para rapper sendiri telah menjadi salah satu suara politik paling terkenal dan paling keras dalam gerakan tersebut.
Lahir di Teheran pada tahun 1985, karya kritis sosial awal Hichkas memberikan wawasan tentang kehidupan di Iran, terutama tentang pemuda dari latar belakang kelas menengah ke bawah dan kelas menengah yang terkena dampak pengangguran yang menghancurkan dan nilai mata uang yang melonjak.
Dengan nada realis sosial, Hichkas membahas topik-topik seperti kemiskinan, korupsi, ketidaksetaraan, dan penindasan di era Republik Islam.
Ketika saya pertama kali mengunjungi Iran pada tahun 2016 sebagai diaspora Iran, anak muda Iran akan memainkan musik di ponsel mereka dan melafalkan lirik Hichkas sebagai cara untuk mengajari saya tentang bagaimana mereka sebenarnya hidup.

Sumber gambar, Getty Images
Tema lain yang berulang dalam karya Hichkas adalah meningkatnya penyensoran ekspresi artistik di Iran, di mana seniman memerlukan izin di bawah aturan ketat Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, yang memastikan bahwa karya budaya tidak menyinggung di mata para ulama.
Menyoroti ketidakmungkinan adanya kebebasan kreatif di bawah sensor, Hichkas bertanya apakah karya sastra Iran yang kini dihormati akan hidup dalam kondisi ini:
"Bagaimana jika Hafez untuk Divan-nya, bagaimana jika Rumi untuk Masnavi-nya dan Muhammad untuk Qurannya harus menerima izin publikasi pemerintah?"
Hari yang baik akan datang?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kolaborator abadi Hichkas di bawah label rintisan Moltafet, adalah produser Mahdyar Aghajani. Dia telah menjadi pusat pengembangan suara hip-hop Iran.
Pada awalnya, artis hip-hop Iran melakukan rap dalam bahasa Inggris dan sangat terinspirasi oleh rap AS dalam penampilan dan ekspresi musik mereka.
Aghajani, yang memiliki latar belakang musik klasik, berusaha menciptakan suara khas Iran dengan menggunakan instrumen tradisional Persia seperti ter, kecapi berleher panjang dan ney, sejenis seruling. Sebagian besar lirik Hichkas ditulis dalam bahasa Persia, bukan bahasa Inggris.
Terlepas dari inspirasi awal dan peniruan rap Barat, rapper Iran telah menciptakan identitas yang berbeda, seperti yang diungkapkan oleh rapper populer Yas pada 2014: "Puisi ada dalam darah kita. Jika [Tupac] dapat bernyanyi tentang kehidupan dan rasa sakitnya serta budayanya, mengapa saya tidak dapat melakukan hal yang sama dalam bahasa saya sendiri?"
Pada tahun 2010, Hichkas merilis lagu sedih dan rindu berjudul 'A Good Day Will Come', tak lama setelah jutaan orang turun ke jalan sebagai bagian dari Gerakan Hijau untuk memprotes hasil pemilu yang mereka yakini curang, dan untuk menuntut kebebasan politik dan sipil.
Dalam lagu tersebut, Hichkas mengungkapkan harapannya akan suatu hari di mana Iran akan bebas dari kekerasan dan kekacauan.
Namun, ketegangan setelah protes memaksa Hichkas mengasingkan diri ke London, dan lagu tersebut menjadi lagu terakhirnya yang direkam di Iran (dirilis saat dia terbang ke luar negeri).
Lagu tersebut menjadi ikon bagi banyak anak muda (slogan A Good Day Will Come masih dicoretkan oleh anak muda di tembok-tembok Teheran).
Sementara itu, gerakan protes telah ditindas secara brutal dan para pemimpinnya ditangkap secara sistematis oleh pemerintah, dan "hari baik", bagi banyak orang, masih belum terlihat.
"Sejarah dan warisan rap di Iran pasca-revolusi dengan sendirinya, benar-benar politis", Nahid Siamdoust, profesor madya di bidang media dan studi Timur Tengah di University of Texas di Austin, mengatakan kepada BBC Culture.
"Tidak banyak ruang bagi musisi atau pembuat konten budaya lainnya untuk mengungkapkan kritik semacam itu. Hip-hop dan rap menyediakan ruang itu,” tambahnya.
Baca juga:
Menurut Siamdoust, periode setelah Gerakan Hijau secara bertahap menyebabkan meningkatnya pembungkaman rapper, yang mempersulit ekspresi politik apa pun untuk muncul.
"Ketika saya menjadi remaja dan mulai memproduseri artis bawah tanah, pemerintah Iran mulai menindak kami, menutup studio yang kami gunakan dan menangkap staf studio serta menangkap artis yang bekerja dengan saya," kata Mahdyar Aghajani kepada The Quietus di 2017.
Aghajani, yang kemudian diasingkan ke Paris, mengatakan kepada The Quietus bahwa artis bawah tanah diperlakukan sebagai kasus "keamanan nasional".
Untuk rapper-rapper domestik Iran, terutama mereka yang memasukkan subjek politik ke dalam karya mereka, lagu pertama mereka mungkin menjadi yang terakhir, karena tekanan dari pihak berwenang.
Selama tahun 2010-an, ada beberapa upaya untuk mengkooptasi hip-hop sebagai bentuk seni pro-kemapanan, dengan tujuan mempromosikan nilai-nilai dan tema-tema Islami kepada demografi yang lebih muda.
Dukungan rapper bertato Amir Tataloo untuk pencalonan presiden ulama konservatif Ebrahim Raisi pada 2017 adalah yang paling menonjol.
Era protes
Pada akhir 2010-an, ketegangan politik mulai meningkat lagi, dengan protes muncul setiap tahun antara 2017 dan 2019.
Seruan untuk perubahan rezim semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda yang semakin vokal. Protes tahun 2019 adalah katalis untuk kebencian abadi terhadap negara, karena pasukan keamanan membunuh sedikitnya 300 dalam beberapa laporan hingga 1500 pengunjuk rasa, menurut Reuters, dalam waktu seminggu.
Menanggapi protes, Hichkas merilis lagu 'They’ve Clenched Their Fist' pada 2019. Di sampul rekaman itu ada daftar panjang nama orang-orang yang terbunuh selama penumpasan itu.
Hichkas membawakan kata-kata penuh kemarahan, mengantarkan kritik yang membakar terhadap kondisi yang memburuk di Iran dengan melodi setar (kecapi Iran) yang suram.
"Mereka tidak menginginkan warga negara, mereka menginginkan budak. Mereka mengubah seluruh negara menjadi sangkar besar dan mengatakan bahwa tidak ada tahanan."
Lagu itu diakhiri dengan audio menyayat dari pengunjuk rasa yang ditembaki.
Pada 2021, Toomaj Salehi, seorang rapper Bakhtiari yang siang hari bekerja di pabrik logam, muncul sebagai perwujudan generasi yang muak dan pemberontak.
Salehi yang biasanya tampil dengan bertelanjang kaki, mengumumkan dirinya dalam liriknya sebagai "raungan amarah" dan "prajurit untuk hak".
Lagu ‘Normal’ yang rilis pada 2021 mengolok-olok gagasan normalitas apa pun di negara dengan ketimpangan ekonomi yang luar biasa.
‘Rat Hole’, dirilis pada tahun yang sama, membidik individu di dalam dan luar negeri yang dia tuduh terlibat dalam membiarkan pelanggaran hak asasi manusia terjadi secara luas di negara itu.

Sumber gambar, Getty Images
"Sungguh mencengangkan apa yang ingin dia ungkapkan dalam musiknya, karena pembungkaman rezim atas skena musik underground ini, dengan sekuritisasi internet," kata Siamdoust.
Menyadari bagaimana internet telah menjadi ancaman bagi stabilitas mereka, rezim meningkatkan pemadaman internet dan pengawasan individu secara online.
Salehi ditangkap karena "menyebarkan propaganda melawan negara", tetapi kemudian dibebaskan.
Saman Yasin, seorang rapper Kurdi, juga menunjukkan keterusterangan yang berani, dan kegigihannya diperkuat oleh fakta bahwa Kurdi menghadapi beban represi dan marginalisasi di Iran.
Dalam lagu ‘Haji’, yang direkam dan dirilis pada 2022, dia nge-rap: "Mereka melarang kebahagiaan saya. Mereka membolak-balikkan saya seperti binatang. Tidak, saya tidak akan diam. […] Saya terluka dalam perang yang tidak seimbang. Saya seorang revolusioner, seorang penganjur perdamaian."
Titik balik?
Gerakan Perempuan, Kehidupan, Kebebasan yang dipimpin oleh para aktivis perempuan, dan muncul pada September 2022 setelah kematian dalam tahanan perempuan muda Kurdi, Mahsa Amini, terbukti menjadi titik balik sosial, budaya, dan politik Iran.
Hichkas, yang telah lama dianggap sudah pensiun, merilis ‘This One Is For’, sebuah spin-off hip-hop dari lagu pemenang Grammy untuk gerakan tersebut, Baraye oleh Shervin Hajipour (yang memenangkan Grammy Award pertama untuk Best Song for Social Change pada Februari 2023).
Bila Hajipour menyebutkan penyakit masyarakat Iran dan keinginan kolektif untuk masa depan yang lebih baik, Hichkas justru membidik negara secara mendalam dan penuh amarah.
Dia membuang mantra angan-angan "Hari yang baik akan datang", dan malah menyanyikan: "Kami akan membawa sendiri hari yang baik", mengilustrasikan bagaimana zeitgeist Iran telah berubah selama satu dekade terakhir.
Di sela-sela nyanyian pengunjuk rasa, Hichkas menge-rap: “Ini untuk kemiskinan yang dipaksakan, bencana alam, untuk setiap jenis diskriminasi yang dapat Anda pikirkan […] Camkan kata-kataku, kemenangan adalah milik kita, kita belum mati."
Lagu ini telah diputar jutaan kali di Soundcloud.
Pada Maret 2023, Fadaei, rapper di bawah label Moltafet, merilis ‘Meshki’ (Hitam), sebuah lagu yang memanfaatkan nada mengejek merek dagang dari keluaran terbaru label tersebut.
Memparodikan tradisi Maddahi Islam Syiah, gaya nyanyian keagamaan seremonial yang digunakan dalam pemakaman dan acara lainnya, Fadaei dengan sinis berduka atas kematian Republik Islam dengan peringatan berulang kali terhadap ulama, memperingatkan mereka bahwa ini adalah akhir bagi mereka.
Rapper yang berbasis di Iran, Toomaj Salehi dan Saman Yasin juga bergabung dengan protes Perempuan, Kehidupan, Kebebasan baru-baru ini, dengan risiko besar terhadap keselamatan mereka.
“Orang-orang seperti [Saman] Yasin dan Toomaj sebenarnya sedang menjalankan ide politik yang membuat mereka semakin berpengaruh bagi orang-orang yang mengenal mereka. Menjadi bagian dari gerakan, berada di jalanan, dan mewujudkan ide mereka selain menjadi seorang rapper menjadikan mereka ancaman bagi rezim Islam, dan juga semacam ikon heroik bagi masyarakat," kata Elham Golpushnezhad, dosen studi budaya di SAE Institute di Brisbane, kepada BBC Culture.
Golpushnezhad menjelaskan bahwa gerakan tersebut secara efektif mengakhiri upaya negara untuk mengkooptasi hip-hop untuk tujuan mereka sendiri.
"Mereka tidak berhasil dan alasan terpenting untuk itu adalah gerakan Perempuan, Kehidupan, dan Kebebasan," katanya.

Sumber gambar, Getty Images
Pada Oktober 2022, Salehi dan Yasin ditangkap, masing-masing atas tuduhan "korupsi di Bumi" dan "memerangi Tuhan", yang membuat mereka berisiko menerima hukuman mati.
Salehi dilaporkan telah dipukuli dan ditahan di sel isolasi. Yasin dijatuhi hukuman mati, sebelum memenangkan banding agar vonis dibatalkan, tetapi tetap di penjara; persidangannya berlangsung pada 8 Mei.
Dua hari sebelum penangkapannya, CBC, lembaga penyiaran publik Kanada, merilis sebuah wawancara dengan Toomaj.
"Saya khawatir jika saya ditangkap, sebagian pengunjuk rasa bisa menjadi putus asa dan kesal. Karena saat ini, kami tidak punya waktu untuk berduka. Jika orang yang saya cintai di sebelah saya terbunuh - saya tidak seharusnya menangis. Saya harus marah," katanya, yang terbukti menjadi kata-kata publik terakhirnya sebelum penahanannya.
Dengan protes yang berpotensi menciptakan rapper-rapper baru dari gerakan anti-pemerintah, rezim menjadi lebih waspada dan memperketat pembatasan terhadap hip-hop.
Spanduk yang mendukung Toomaj kini digantung secara ilegal di bawah jembatan di seluruh Teheran. Tidak jelas apakah rezim masih akan terus mempersekusi para rapper seperti mereka di masa depan.
Seperti yang dikatakan Afrasiab, seorang rapper-aktivis dan teman Toomaj, dalam pesan video baru-baru ini: "Tahukah Anda apa yang paling mereka takuti? Bahwa kami tidak takut lagi."
-
Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul Hichkas: The songs that defied the Iranian government dapat Anda baca di BBC Culture.
































