WHO minta Rusia menjelaskan teka-teki kematian pekerja di laboratorium penelitian pes di Siberia – Apa itu pes pneumonik dan bagaimana penyebarannya?

Seorang tenaga medis yang mengenakan alat pelindung diri (APD) memasuki unit perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit Klinik Kota Moskwa 52, Moskwa, Rusia, 12 Mei 2020.

Saat itu, Rusia mencatat 290.678 kasus infeksi virus corona, jumlah tertinggi kedua di dunia.

Foto: Andrey Rudakov/Bloomberg via Getty Images
Keterangan gambar, Ilustrasi: Seorang tenaga medis yang mengenakan alat pelindung diri (APD) memasuki unit perawatan intensif (ICU) di Rumah Sakit Klinik Kota Moskwa 52, Moskwa, Rusia, 12 Mei 2020. Saat itu, Rusia mencatat 290.678 kasus infeksi virus corona, jumlah tertinggi kedua di dunia.
    • Penulis, Dominic Hughes
    • Peranan, Health correspondent
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta Rusia memberikan informasi lebih lanjut terkait kematian seorang pekerja di sebuah laboratorium penelitian pes di Siberia.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan pekerja tersebut jatuh sakit, tetapi laporan media telah memicu berbagai spekulasi.

Para pejabat Rusia masih menyelidiki penyebab kematiannya. Namun, mereka mengatakan semua orang yang melakukan kontak dengan peneliti tersebut dinyatakan negatif pes pneumonik.

Lantas, apa itu pes pneumonik dan seberapa berbahayakah penyakit ini?

Baca juga:

Apa itu pes pneumonik?

Pes pneumonik merupakan infeksi paru-paru yang sangat serius dan kerap disebut sebagai bentuk pes yang paling ganas.

Ada dua jenis pes lainnya, yakni pes bubonik yang menyerang kelenjar getah bening, dan pes septikemik yang menyerang aliran darah.

Pes pneumonik dapat terjadi setelah seseorang terlebih dahulu terinfeksi salah satu dari dua jenis pes tersebut.

Gejalanya antara lain sesak napas, nyeri dada, dan sering kali batuk berdarah.

Pes pneumonik dianggap lebih serius, tetapi lebih jarang terjadi dibandingkan pes bubonik.

Jumlah kasus ketiga jenis pes di seluruh dunia berbeda-beda setiap tahunnya, tetapi diperkirakan berkisar antara 1.000 hingga 3.000 kasus.

Sebagian besar merupakan pes bubonik dan banyak kasus terjadi di Afrika Tengah. Namun, kasus pes juga ditemukan di sejumlah negara lain, termasuk Rusia, India, China, dan Amerika Serikat.

This colourised microscopic image shows Yersinia pestis, the bacterium that causes plague. The rod-shaped bacteria appear in pale green and cluster across the surface of red tissue cells. The image highlights how the microbes gather and multiply on host tissue, illustrating the infectious organism responsible for pneumonic and bubonic plague.
Keterangan gambar, Pes pneumonik sering disebut sebagai bentuk pes yang paling ganas.

Prof Piero Olliaro, profesor penyakit menular terkait kemiskinan di University of Oxford, mengatakan bakteri penyebab pes masih bertahan di berbagai belahan dunia.

"Pes sendiri belum menghilang. Bakteri penyebabnya, Yersinia pestis, masih bertahan pada hewan-hewan yang menjadi reservoir-nya di berbagai belahan dunia," katanya.

"Sekitar 200 spesies hewan pengerat dapat membawa bakteri tersebut, dengan reservoir yang ditemukan di kawasan Amerika, Eurasia, dan Afrika.

Korban bekerja di sebuah lembaga penelitian pes di kota Irkutsk, Siberia.
Keterangan gambar, Korban bekerja di sebuah lembaga penelitian pes di kota Irkutsk, Siberia, Rusia.

"Karena itu, kasus pada manusia masih terjadi secara sporadis. Namun, sistem pengawasan yang telah tersedia, langkah-langkah pengendalian infeksi, serta pengobatan antibiotik yang efektif merupakan perangkat penting untuk membatasi dampaknya."

pes

Bagaimana pes pneumonik menyebar?

Penyakit pes adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri yang biasanya ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang hidup pada hewan tersebut.

Seseorang dapat tertular melalui gigitan kutu yang terinfeksi atau kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Namun, pes pneumonik juga dapat menular antarmanusia melalui percikan cairan dari saluran pernapasan yang dikeluarkan saat penderita batuk.

Seorang petugas kebersihan menyemprotkan disinfektan saat proses pembersihan di salah satu kawasan dengan kondisi sanitasi terburuk di Antananarivo, Madagaskar, pada 10 Oktober 2017. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah pes mematikan yang bermula pada akhir Agustus telah menewaskan lebih dari 20 orang di Madagaskar dan menyebar dengan cepat di sejumlah kota di negara itu.
Keterangan gambar, Seorang petugas kebersihan menyemprotkan disinfektan saat proses pembersihan di salah satu kawasan dengan kondisi sanitasi terburuk di Antananarivo, Madagaskar, pada 10 Oktober 2017. Di negara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah pes mematikan yang bermula pada akhir Agustus telah menewaskan lebih dari 20 orang dan menyebar dengan cepat di sejumlah kota di negara itu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Percikan yang mengandung bakteri itu kemudian dapat terhirup oleh orang lain, meski penularan semacam ini biasanya membutuhkan kontak yang cukup dekat.

Pes pneumonik juga dapat berkembang pada penderita pes septikemik apabila infeksinya kemudian menyebar ke paru-paru.

Pes pneumonik diperkirakan menjadi jenis utama pes di balik wabah yang dikenal sebagai Black Death, yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada abad ke-14.

Baca juga:

Dr Zania Stamataki, profesor madya imunologi virus di University of Birmingham, mengatakan penelitian terhadap penyakit seperti pes penting untuk terus dilakukan.

"Saya memahami mengapa keberadaan bakteri pes di laboratorium dapat membuat orang khawatir. Karena itu, penting untuk menjelaskan mengapa penelitian semacam ini dilakukan," katanya.

"Pes bukan sekadar penyakit dari masa lalu. Penyakit ini masih endemik pada populasi hewan pengerat di berbagai wilayah Afrika, Asia, dan Amerika. Kasus pada manusia terjadi setiap tahun, termasuk wabah pes pneumonik.

"Pengembangan metode diagnosis dan vaksin, serta pemantauan resistensi antibiotik, semuanya membutuhkan laboratorium yang menyimpan dan meneliti organisme hidup penyebab pes.

"Penelitian ini sangat penting untuk mempersiapkan diri menghadapi wabah."

Apakah penyakit ini bisa diobati?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pes pneumonik memiliki masa inkubasi yang sangat singkat, bahkan terkadang hanya 24 jam.

Para ahli memperingatkan, jika tidak segera didiagnosis dan diobati, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal.

Namun, pes dapat diobati secara efektif dengan antibiotik apabila pengobatan dimulai sejak dini.

Dr Malick Gibani, profesor madya klinis bidang vaksinologi bakteri di Imperial College London, mengatakan infeksi ini secara luas dianggap sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

"Pes pneumonik adalah bentuk penyakit pes yang sangat parah," katanya.

"Sejumlah buku teks menyebut tingkat kematiannya mencapai 100% jika tidak diobati, meskipun sulit mendapatkan angka yang akurat pada masa sekarang.

Tiga pria yang mengenakan pakaian pelindung dari kepala hingga kaki mengamati seorang petugas rumah sakit menyemprotkan disinfektan berbahan karbol untuk mensterilkan meja autopsi di Rumah Sakit Pes di Mukden, China, ketika terjadi wabah pes pneumonik pada musim dingin 1910-1911.

Foto: Library of Congress/Corbis/VCG via Getty Images
Keterangan gambar, Tiga pria yang mengenakan pakaian pelindung dari kepala hingga kaki mengamati seorang petugas rumah sakit menyemprotkan disinfektan berbahan karbol untuk mensterilkan meja autopsi di Rumah Sakit Pes di Mukden, China, ketika terjadi wabah pes pneumonik pada musim dingin 1910-1911.

"Penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini.

"Itulah sebabnya orang yang berpotensi mengalami paparan berisiko tinggi dapat diberi antibiotik sebagai pencegahan setelah terpapar dan/atau menjalani karantina."

Dalam kasus di Rusia, masih belum jelas apakah orang yang meninggal tersebut terinfeksi pes pneumonik.

Pihak berwenang Rusia mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan "tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas profesional pasien".

Karena itu, hingga kini belum diketahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington sedang mencermati kasus tersebut "dengan sangat serius", sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan "tidak ada indikasi ancaman yang lebih luas terhadap Amerika Serikat".

Otoritas Kesehatan dan Keselamatan Inggris mengatakan pihaknya tengah mencari informasi lebih lanjut, tetapi risiko terhadap masyarakat Inggris dinilai "sangat rendah".