Aktivis Malaysia gelar demonstrasi di depan KBRI di Kuala Lumpur, protes kabut asap karhutla – 'Kami minta Jakarta buktikan siapa perusahaan perkebunan Malaysia yang terlibat'

Sumber gambar, Greenpeace Malaysia
- Penulis, Quin Pasaribu
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Melaporkan dari, melaporkan dari Kalimantan Selatan
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 9 menit
Sejumlah aktivis lingkungan Malaysia menggelar demonstrasi di depan Kedutaaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (04/09). Mereka mendesak Indonesia membuka identitas perusahaan-perusahaan pemegang konsesi lahan, termasuk dari Malaysia, yang terkait kebakaran hutan dan lahan (karhulta) di wilayah Indonesia belakangan ini.
Demonstrasi ini digelar oleh aktivis lingkungan Greenpeace Malaysia dan Himpunan Advokasi Rakyat (RA).
Dalam foto-foto yang diterima BBC Indonesia, belasan aktivis itu membawa spanduk, poster dan berorasi secara bergantian.
Protes ini dilayangkan ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra telah merambah Filipina, Malaysia dan Singapura.
Sejumlah warga di negara-negara itu mulai menyatakan kegusaran serta kekhawatirannya.
Mereka menyebut kabut asap itu menyebabkan Indeks Pencemaran Udara masuk kategori "sangat tidak sehat".
"Kami menyampaikan seruan ini atas nama jutaan warga Malaysia yang kesehatan, mata pencaharian, dan kehidupan sehari-harinya terdampak setiap tahun oleh polusi asap lintas batas yang berasal dari kebakaran lahan dan hutan di Indonesia," demikian rilis Greenpeace Malaysia yang diterima BBC Indonesia, Jumat (04/09).
Mereka juga meminta agar pemerintah Indonesia membuktikan tentang dugaan keterkaitan perusahaan perkebunan tertentu yang dimiliki pihak Malaysia atau Singapura dalam karhutla belakangan ini.

Sumber gambar, Greenpeace Malaysia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
"Kami menyambut pengakuan tersebut sebagai titik awal menuju akuntabilitas lintas batas yang sesungguhnya," ujar campaign manager Greenpeace Malaysia, Heng Kiah Chun dan chairman Himpunan Advokasi Rakyat Malaysia (HARAM), Brendon Gan, dalam keterangan tertulisnya.
Tapi, demikian rilis mereka, pengakuan tanpa disertai bukti yang diungkapkan kepada publik tidak membuat masyarakat di kedua negara memiliki kemampuan yang lebih baik untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab.
Untuk itulah, mereka meminta pemerintah Indonesia agar berkomitmen untuk terus membagikan bukti-bukti tersebut kepada Pemerintah Malaysia, melalui mekanisme yang telah tersedia dalam Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas (AATHP) maupun melalui jalur bilateral langsung.
"Alih-alih hanya menyampaikannya melalui tuduhan publik dan pernyataan kepada media," ujar mereka.
"Sementara itu, masyarakat yang menanggung risiko kesehatan, beban ekonomi, dan ancaman terhadap kesejahteraan mereka tetap tidak memperoleh pemulihan yang memadai," ujar Heng Kiah Chun dan Brendon Gan.
Apabila pemerintah Indonesia membukanya, lanjut mereka, masyarakat sipil, regulator, dan Parlemen Malaysia dapat menindaklanjuti upaya pertanggungjawaban dalam yurisdiksinya.
'Kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami juga lakukan pendinginan'
Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan membara di Hutan Lindung Liang Anggang di Kalimantan Selatan, Jumat (4/9).
Menurut personel pemadam, kebakaran terbaru yang terjadi pada Selasa (2/9) malam sampai menghanguskan antara 5-10 hektare. Pada malam itu, personal yang berjaga tidak terlalu banyak sehingga tak bisa berbuat apa-apa.
"Jadi malam itu kami hanya melakukan pendinginan, " ujar Bambang, personel pemadam dari Dinas Kehutanan kepada jurnalis BBC Indonesia, Quin Pasaribu.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Andra Anhar
"Malam Rabu itu serangan besar, karena dari pagi angin kencang sekali, " sambungnya.
Hingga hari ini, Jumat (04/09) beberapa titik api masih terlihat. Asap tebal bahkan nampak sangat jelas menyelimuti kawasan hutan lindung seluas 960 hektar tersebut.
Asap tebal itu keluar tanpa henti dari dalam tanah gambut yang membara. Tanah gambut sisa kebakaran berubah hitam. Pohon-pohon meranggas kering. Beberapa hangus terbakar.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Andra Anhar
Pemadaman yang berlangsung sejak pagi pukul 06.30 waktu setempat masih terus berlangsung hingga siang.
Sekitar 200 petugas dikerahkan untuk memadamkan api di lahan gambut dalam antara 3-10 meter. Pemadaman dilakukan lewat jalur darat dan udara. Helikopter water bombing sebanyak dua unit dikerahkan untuk memperlambat api agar tidak terus menjalar.
Namun demikian, pemadaman di lahan gambut seperti ini bukan hal mudah. Para petugas mengalami kesulitan lantaran air yang tersedia dalam parit-parit harus dipompa ke lokasi kebakaran yang lebih tinggi.
"Yang bisa memadamkan ini cuma hujan atau sumber air melimpah untuk merendamnya."
"Yang kami lakukan hanya penyekatan supaya tidak menyebar, karena pada dasarnya api masih membara di dalam tanah. "
Sebelumnya, Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, menyampaikan berdasarkan data pemantauan periode 1 Januari hingga 1 September 2026, tercatat sebanyak 2.332 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 12.339,74 hektare.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
"Data ini menjadi bagian dari pemantauan harian dalam upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan. Perkembangan kejadian dan titik panas terus dipantau sebagai dasar penanganan di lapangan," kata Ronny.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, sebaran kejadian karhutla tercatat di sejumlah kabupaten/kota. Kabupaten Banjar mencatat 441 kejadian dengan luas lahan terdampak 2.737,51 hektare, sedangkan Kota Banjarbaru sebanyak 474 kejadian dengan luas 1.831,80 hektare.
Selanjutnya, Hulu Sungai Selatan tercatat 324 kejadian dengan luas 2.203,97 hektare, Tanah Laut 359 kejadian dengan luas 2.072,35 hektare, dan Tapin 183 kejadian dengan luas 1.244,68 hektare.
Sementara itu, Barito Kuala mencatat 168 kejadian dengan luas 971,70 hektare, Hulu Sungai Utara 98 kejadian dengan luas 532,85 hektare, Balangan 66 kejadian dengan luas 196,51 hektare, serta Tanah Bumbu 69 kejadian dengan luas 197,60 hektare.
Kualitas udara Kalimantan Selatan masih 'sangat tidak sehat'
Sementara itu, kualitas udara di Kalimantan Selatan menunjukkan tanda "sangat tidak sehat" dengan polutan utama PM2.5 mencapai 164.9 µg/m³ pada Kamis (03/09) pagi.
Banjarbaru merupakan salah satu wilayah atau tiga besar di Kalsel yang mengalami kebakaran lahan terbanyak.
Pantauan BBC News Indonesia, sepanjang perjalanan, kabut asap putih terlihat menyelimuti jalanan.
Baunya sangat terasa menganggu pernapasan.
Jurnalis BBC Indonesia, Quinawaty Pasaribu yang sudah memakai masker dengan filtrasi tinggi pun masih mencium bau asap sisa kebakaran.
Beberapa warga yang melintas di jalan juga ada yang memakai masker, namun ada juga yang tidak.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Meski begitu, jarak pandang masih terbilang aman. Jika kabut asap tebal, jarak pandang bisa sangat pendek, tak lebih dari 5-10 meter.
Pantauan di seputaran kawasan Guntung Payung pada pukul 06.30 waktu setempat, terdapat sebagian lahan gambut tipis milik warga seperti baru terbakar.
Tanahnya menghitam dan dari permukaan menguar asap putih terus-menerus tanpa henti seperti ada api yang membara dari dalam tanah.
Sebagai informasi, kebakaran hutan dan lahan di Banjarbaru, sebagai ibukota provinsi Kalimantan Selatan, berdampak cukup luas.
Ada tiga wilayah yang paling parah terbakar, yakni kawasan ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, hutan lindung Liang Anggang, dan Pengayuan seluas 900 hektare di perbatasan Kabupaten Tanah Laut.
Luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.263 hektare dalam dua bulan terakhir.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton S.P. Panjaitan, mengatakan pada Selasa (01/09), mengatakan kualitas udara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat menembus level berbahaya akibat asap kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mencatat ada 13 titik panas dengan kualitas udara sedang hingga berbahaya di Kalimantan Selatan.

Sumber gambar, BBC News Indonesia/Andra Anhar
'Sudah setiap tahun kami seperti ini'
Rizma Nur Fatimah, 19 tahun, guru bantu di TK Al Hidayah, yang telah mengajar selama setahun, mengatakan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya sempat diliburkan selama dua minggu akibat kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan sejak awal Agustus.
Sekolahnya, yang berisi 25 murid, baru melakukan tatap muka pada Kamis (03/09).
"Dari pagi sampai jam setengah sebelas baru reda kabutnya," ujarnya.
Ia menduga asap berasal dari area kebakaran di sekitar sekolah.
Kabut asap yang pekat membuat sekolah mengambil keputusan untuk meliburkan diri dari kegiatan belajar karena khawatir terhadap kesehatan murid.
"Kakak berdiri, melihat kaki aja nggak bisa. Nggak bisa sama sekali," kata Rizma menggambarkan kondisi saat asap berada pada puncaknya.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Andra Anhar
Menurutnya, asap bahkan masuk ke dalam rumah meski pintu dan jendela sudah ditutup rapat.
Dampak kesehatan juga dirasakan oleh warga sekitar, termasuk murid-murid taman kanak-kanak dan keluarga mereka.
Rizma mengatakan banyak anak yang mengalami gangguan pernapasan selama periode kabut asap.
"Orang tuanya juga kena. Banyak yang ISPA juga," ujarnya.
Meski sekolah menyediakan masker bagi para murid, ia mengatakan anak-anak kerap melepasnya saat beraktivitas sehingga penggunaan masker tidak selalu berlangsung konsisten.
Setelah kondisi dinilai membaik dan ada arahan bahwa sekolah sudah boleh kembali beroperasi, kegiatan belajar mengajar akhirnya dimulai lagi.
Namun, sebagai warga yang lahir dan besar di daerah tersebut, Rizma mengaku peristiwa semacam ini bukanlah hal baru.
"Sudah setiap tahun kami kayak ini, jadi ya pasrah aja sudah," katanya.
Meski demikian, ia menilai kabut asap tahun ini lebih berat dibanding yang pernah dialami sebelumnya.
"Lebih parah. Anginnya juga lebih kencang tahun ini," tambahnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Andra Anhar
Sementara itu, Misbah, 23 tahun, ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Pengayuan, dekat lokasi kebakaran lahan, mengatakan putrinya yang berusia tiga tahun, sempat tidak masuk sekolah selama 10 hari. Tepatnya, ketika kabut asap mencapai puncaknya pada pertengahan Agustus.
Menurutnya, kegiatan belajar di TK dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh setelah ada pemberitahuan dari dinas pendidikan, dengan mempertimbangkan kondisi asap menyelimuti kawasan selama berhari-hari.
"Jam sembilan tuh masih tebal," katanya.
Rumah Misbah berada tidak jauh dari lokasi kebakaran, yang menurutnya hampir mencapai area sekitar sekolah. Ia mengatakan kebakaran lahan menjadi peristiwa yang berulang setiap musim kemarau.
"Setiap tahun kalau musim kemarau pasti selalu kebakaran di sini," ujarnya.
Saat kabut berada pada kondisi terburuk, jarak pandang warga sangat terbatas, bisa hanya sekitar dua meter, sehingga membuat warga khawatir beraktivitas di luar rumah.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Quinawaty Pasaribu
"Kalau jam enaman tuh masih kelihatan, sekitar jam tujuhan tuh asapnya makin tebal, sampai jam sembilan tuh masih tebal. Sampai tengah hari baru kelihatan lagi jalan," katanya.
Dampak kesehatan juga dirasakan keluarganya. Misbah mengatakan putrinya sempat mengalami batuk, radang tenggorokan, dan pilek ketika kabut asap menyelimuti desa.
"Sempat semalam tuh batuk-an, radang sakit, batuk, sempat ingusan," katanya.
Azkiya kemudian dibawa berobat dan membutuhkan sekitar tiga hari untuk pulih setelah mendapat pengobatan.
Kekhawatiran terbesar, kata Misbah, adalah kemungkinan semakin banyak anak terdampak gangguan pernapasan apabila kondisi serupa terus berlanjut.
"Takutan-nya kalau kedampakan ke anak-anak di sekitar sini," ujarnya.
Baca juga:
Menurut Misbah, kondisi tahun ini merupakan yang terparah yang pernah ia alami. Asap tidak hanya menyelimuti lingkungan luar, tetapi juga masuk ke dalam rumah warga.
"Makanya banyak rumah yang ditutupi di sela-sela udaranya supaya kabutnya nggak masuk," katanya.
Meski mengaku marah dengan situasi yang terus berulang, Misbah mengatakan warga pada akhirnya terbiasa menghadapi kebakaran lahan yang hampir selalu muncul saat musim kemarau.
"Marah itu jujur ada marah, cuma sudah biasa menghadapi ini. Bagi kami, setiap kemarau pasti ada kebakaran," katanya.
Di Kalteng, kematian anak dan relawan pemadam kebakaran akibat asap
Sebelumnya, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun juga dilaporkan meninggal dunia di Puruk Cahu, Murung Raya, Kalimantan Tengah.
Meski Dinas Kesehatan setempat mengatakan kematian korban "tidak meninggal sepenuhnya karena ISPA", keluarga menyebut kondisi kesehatannya memburuk selama periode kabut asap.
Seorang warga bernama Lulus, yang merupakan tetangga korban, mengatakan kondisi anak tersebut memburuk sejak Puruk Cahu diselimuti kabut asap.
Korban sempat dilarikan ke RSUD Puruk Cahu pada Jumat (28/8) dan direncanakan dirujuk ke rumah sakit di Banjarmasin sebelum meninggal dunia.
"Menurut keluarganya juga anak itu mengalami asma sejak usia dua tahun dan makin parah sejak terjadinya kabut asap di Kota Puruk Cahu," kata Lulus.
Mengutip laporan Antara, Kepala Dinas Kesehatan Murung Raya Suwirman Hutagalung mengatakan korban juga memiliki riwayat kelainan ginjal yang telah lama diderita.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan mencatat lebih dari 700 warga datang berobat dengan keluhan yang kemudian diidentifikasi sebagai gejala ISPA.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga sempat melaporkan adanya relawan pemadam kebakaran karhutla yang tewas saat menjalankan tugas operasi di Kalimantan Tengah.
Relawan yang wafat dalam misi kemanusiaan tersebut adalah Akhmad Rijani, Ketua Tim Serbu Api Kelurahan Palangka, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dia tewas saat memadamkan kobaran api lahan pada Kamis (27/08).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan pihaknya memberikan penghormatan khusus kepada relawan yang gugur di garis depan tersebut.
"Kami menyampaikan dulu belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada relawan pemadam karhutla yang wafat dalam misi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan," ujar Berton dalam konferensi pers Selasa (01/09).
"Terima kasih atas keberanian dan pengabdian yang dipertaruhkan hingga akhir," kata Berton.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala.





























