Gempa berkekuatan 7,7 guncang NTT – 47 orang tewas dan 2.000 mengungsi

Pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/8/2026). Pihak rumah sakit dibantu petugas kepolisian setempat mengevakuasi pasien setelah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo pada pada pukul 06.13 WITA.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana

Keterangan gambar, Pasien terdampak gempa dievakuasi di halaman RS Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu (15/08).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 9 menit

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitude yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/08) dilaporkan menyebabkan 47 orang tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka.

Jumlah itu merupakan data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 18.48 WIB, Sabtu (15/08).

Lokasi para korban yang tewas itu terjadi di:

  • Kabupaten Sikka
  • Kabupaten Manggarai
  • Manggarai Timur
  • Ende
  • Manggarai Barat

Jumlah korban tewas akibat gempa diprediksi akan terus bertambah.

Data sementara BNPB pada Sabtu (15/8) pukul 17.00 WIB, total rumah rusak berat mencapai 157 unit, rusak sedang 41 unit dan rusak ringan 148 unit.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas pendidikan 87 unit, kesehatan 18 unit, tempat ibadah 5 unit, kantor 6 unit dan sejumlah fasilitas umum lain.

Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul 06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana

Keterangan gambar, Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08).

Gempa bumi berkekuatan 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/08).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa terjadi pada pukul 05:58 WITA di kedalaman 15 kilometer.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pusat gempa terjadi di 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan terdapat 37 gempa susulan dengan magnitude 3,7 sampai 6,2.

Mungkin Anda tertarik:

BNPB menyebut terdapat lima kepala keluarga terdampak dan sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri.

Sebagian besar warga melakukan evakuasi menyusul guncangan kuat dan peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

Sedangkan di Kota Bima tercatat satu kepala keluarga atau enam jiwa terdampak.

Selain korban jiwa, BNPB melaporkan, terdapat beberapa jalan yang longsor dan tertutup, puluhan ruma mengalami rusak ringan hingga berat.

BNPB juga menyebut banyak puskesmas yang mengalami kerusakan.

"Kemudian untuk bandara dari Kemenhub, ada lima bandara terdampak, tapi bukan di runway [landasan pacu], tapi di gedung terminal. Lalu pelabuhan terdampak ada dua pelabuhan Reo di Manggarai dan Maumere," ujar Kepala BNPB Suharyanto.

Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Sumber gambar, Tim SAR Gabungan

Keterangan gambar, Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Dampak kerusakan sementara yang telah teridentifikasi BNPB meliputi:

  • 54 unit rumah rusak berat
  • Sembilan unit rumah rusak sedang
  • 11 unit rumah rusak ringan
  • Lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan rusak
  • Satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah serta enam kantor pemerintahan juga terdampak

BNPB mencatat, Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup signifikan.

"Tercatat 29 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang dan sembilan unit rumah rusak ringan. Selain itu, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 23 unit rumah rusak berat," kata Berton.

Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka

Sumber gambar, Arnold Welianto

Keterangan gambar, Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka

Wilayah yang dilaporkan merasakan guncangan antara lain:

  • Kabupaten Nagekeo, Sikka dan Manggarai Barat di NTT;
  • Kota Bima dan Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat;
  • Kabupaten Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros di Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Nagekeo, kata Berton, petugas masih melakukan penanganan situasi, dengan kondisi jalan dilaporkan mengalami kemacetan dan aliran listrik masih padam.

Potensi tsunami

 Rumah-rumah yang rusak terlihat pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Gempa kuat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di Indonesia bagian timur pada dini hari tanggal 15 Agustus—menurut keterangan Survei Geologi AS (USGS) dan otoritas Indonesia—yang memicu peringatan tsunami dan menyebabkan ratusan warga mengungsi. (Foto oleh

Sumber gambar, SELO / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah rumah roboh pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Ruteng, Manggarai, NTT, pada Sabtu (15/08).

BMKG telah menerbitkan peringatan dini tsunami atas peristiwa itu, namun peringatan dinyatakan berakhir.

Di sejumlah tempat tsunami telah terdeteksi. Di Bakalang, Alor, NTT, tsunami setinggi 0,14 meter pada 05:41 WIB.

Di Dompu, NTB, tsunami setinggi 0,17 meter. Lalu di Flores Timur, Labuan Bajo, dan Sikka ketinggian air dari 0,19 hingga 0,36 meter.

Di Maurole, Ende, NTT ketinggian air hampir satu meter pada 05:27 WIB.

Selain itu, BMKG juga melaporkan peringatan siaga hingga waspada tsunami sejumlah wilayah di NTT, NTB dan Sulawesi Selatan, dengan ketinggian 0,5 hingga tiga meter.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG merilis rekomendasi "evakuasi menyeluruh" bagi pemerintah daerah di wilayah terdampak.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, berkata pihak Istana telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk memastikan kesiagaan seluruh unsur dalam menghadapi situasi awal pascakejadian di NTT.

"Dari tadi pagi saya sudah koordinasi dengan Menko PMK, Kabasarnas, BMKG, BNPB, dan Gubernur NTT untuk memastikan atensi dan kesiagaan semua unsur di masa masa awal kejadian ini," kata Mensesneg Prasetyo Hadi, Sabtu (15/08).

Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul 06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Gecio Viana

Keterangan gambar, Pegawai hotel mengamankan barang-barang milik wisatawan dari gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/08).

Sebelumnya, Wakil Bupati Sikka, NTT, Simon Subandi Supriadi melaporkan dua orang tewas akibat tertimpa reruntuhan bangunan di Pelabuhan Laurentius Say.

"Yang satu ibu mau ke Kupang. Jadi kena runtuhan, meninggal. Satu lagi bapak pasien orang Adonara, sudah mau pulang di pelabuhan," kata Simon.

Simon bilang kerusakan terparah sejauh ini yang terdata terjadi di Pelabuhan Laurentius Say.

"Kalau di fasilitas umum, sementara belum ada laporan kerusakan yang berat. Tadi saya pantau di rumah sakit, pasien diungsikan di luar."

"Dan sementara sedang berlangsung pemasangan tenda darurat dari BPBD dan dinas sosial," kata Simon.

Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Gempa kuat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di Indonesia bagian timur pada dini hari tanggal 15 Agustus—menurut keterangan Survei Geologi AS (USGS) dan otoritas Indonesia—yang memicu peringatan tsunami dan menyebabkan ratusan orang mengungsi.

Sumber gambar, SELO / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08).

Tim SAR Gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri melaporkan telah mengevakuasi tiga orang yang terdampak gempa di Maumere.

"Kami menerima informasi bahwa saat terjadi gempa, bangunan yang berada di Pelabuhan Lauren Say Maumere-Sikka rubuh dan menimpa satu orang korban atas Meliana Nenong, perempuan berusia 54 tahun dengan kondisi meninggal dunia," kata Fathur Rahman, Kepala Kantor SAR Maumere.

"Dan dua orang luka-luka dan ketiganya langsung dievakuasi Tim SAR Gabungan ke RSUD T.C Hillers Maumere."

Selain itu, Fathur bilang, Tim SAR Gabungan dari Kantor SAR Maumere juga telah menuju ke lokasi kejadian gempa Kabupaten Nagekeo dan lokasi lain yang terdampak.

"Untuk saat ini pendataan seluruh korban masih dikoordinasikan dengan BPBD setempat." tambah Fathur.

Warga berhamburan keluar rumah

Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka

Sumber gambar, Arnold Welianto

Keterangan gambar, Kepanikan warga di Desa Talibura, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka

Jurnalis di Sikka, Arnold Welianto, memaparkan gempa dengan guncangan yang besar itu terjadi pada hagi hari.

"Saya kaget dan bangun, langsung menuju ke kamar anak, langsung tarik anak keluar dari rumah, istri ikut dari belakang. Rumah kami pinggir pantai," ujar Arnold.

Di luar rumah, Arnold melihat banyak warga lain juga yang lari menuju perbukitan dan memenuhi jalan raya.

"Karena setelah gempa besar itu masih terjadi gempa susulan dan air laut sempat surut agak lama," tambah Arnold.

Dia juga melihat para pasien di puskesmas dievakuasi di luar bangunan dan aktivitas kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara.

Di wilayah Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejumlah warga juga dilaporkan berbondong-bondong menuju perbukitan untuk mencari perlindungan setelah gempa mengguncang wilayah itu.

Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08).

Sumber gambar, SELO / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah bangunan tampak rusak setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 melanda Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/08).

Berdasarkan laporan jurnalis Kompas.com di lapangan, sejumlah warga mengungsi ke dataran yang lebih tinggi karena khawatir terjadi gempa susulan serta kenaikan air laut.

"Saya pun berlindung bersama warga di perbukitan di Kelurahan Watu Nggene, untuk menghindar dari gempa susulan dan air lain naik," lapor jurnalis Kompas.com di lapangan.

Sejumlah kerusakan juga dilaporkan terjadi, di antaranya adalah Gedung kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Ruteng.

Di Kota Mataram, NTB, sejumlah warga yang sedang beraktivitas langsung berhamburan ke tengah jalan.

"Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah," kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu.

Ia mengatakan gempa terasa seperti ayunan dan berlangsung cukup lama, sehingga membuat kepala terasa pusing seperti jet usai melakukan penerbangan menggunakan pesawat.

"Tadi saat lagi tidur tiba-tiba semua benda di kamar bergoyang, ternyata itu gempa bumi. Semoga tidak terjadi hal buruk di daerah pusat gempa," ucap Adam, salah seorang warga Lombok lainnya.

Apa penyebab gempa itu?

Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Sumber gambar, Tim SAR Gabungan

Keterangan gambar, Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan bahwa sumber gempa itu berkaitan dengan aktivitas sesar aktif yang berada di bagian utara Pulau Flores.

Menurut Arief, aktivitas sesar serupa juga pernah berkaitan dengan gempa yang terjadi pada 1992.

"Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores," kata Arief .

Selain itu, Arief meminta masyarakat menjauhi kawasan pesisir untuk sementara waktu.

"Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai," katanya.

BMKG telah mengakhiri peringatan tsunami setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang NTT.

"Pengakhiran telah diterbitkan," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers daring.

Meski peringatan tsunami sudah dicabut, BMKG tetap memantau kondisi laut dan aktivitas gempa susulan di sekitar wilayah terdampak.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa.

Berita ini akan terus diperbaharui.

---

Wartawan Arnold Welianto, dari Kabupaten Sikka, NTT berkontribusi untuk artikel ini.